Kalau ditanya siapa The Boy ini, jawabannya agak misterius. Dia muncul begitu saja di dunia yang sepi banget, mirip kota mati yang isinya cuma bayang-bayang dan sisa-sisa reruntuhan. Dengan senjata berbentuk salib yang dia bawa di punggungnya, dia kelihatan kayak pengembara yang lagi punya misi khusus, meski nggak pernah dijelasin secara gamblang sebenarnya dia mau ke mana atau nyari apa.
Pertemuannya dengan The Girl bisa dibilang momen paling krusial di cerita ini. Si cowok ini jadi sosok yang penuh tanya; dia tipe orang yang tenang, kalem, tapi bikin penasaran karena dia kayak ngerti sesuatu yang nggak dipahami si gadis. Mereka berdua sempat jalan bareng di tengah dunia yang suram, saling berinteraksi lewat gestur minim kata, yang bikin suasana makin kerasa berat dan filosofis.
Ending-nya sih beneran bikin mikir keras. Tanpa banyak drama, The Boy ini ngebuktiin kalau dia bukan sekadar karakter tempelan, tapi sosok kunci yang ngebawa perubahan drastis buat nasib si gadis. Kehadirannya yang singkat tapi berkesan ini emang ninggalin banyak teori buat para penonton, entah dia itu penyelamat, pengkhianat, atau cuma sekadar cerminan dari realita yang pahit.