Aksi komedi absurd kembali berlanjut di musim ketiga ini, membawa suasana penjara yang kian gila. Kehidupan di balik jeruji besi terasa makin menantang dengan berbagai rintangan tak terduga yang harus dihadapi di tengah hiruk-pikuk fasilitas pengamanan tingkat tinggi.
Putin, kelinci pemalas dengan kepribadian polos, harus bertahan hidup dalam kekacauan sehari-hari. Meski selalu ingin tenang, ia terjebak dalam situasi berbahaya karena terus terseret oleh tindakan nekat rekan satu selnya yang sangat temperamental.
Kirenenko adalah sosok mafia kejam yang tak segan menghancurkan apa pun demi keinginannya sendiri. Hubungannya dengan Putin sangat kontras; sementara Putin mencoba berdamai, Kirenenko justru memicu kekacauan yang membuat mereka terus diburu oleh para sipir.
Konflik memuncak saat mereka berusaha keluar dari area blok sel dengan memanfaatkan barang seadanya. Ketegangan meningkat drastis ketika penjaga mulai bertindak lebih agresif, memaksa duo unik ini untuk bekerja sama meski dengan motivasi yang sangat berbeda.
Tema kebebasan dan loyalitas menjadi inti dari pelarian epik ini. Di balik tawa yang meledak-ledak, tersimpan misteri masa lalu yang kelam dari para penghuni penjara, menjanjikan petualangan penuh adrenalin yang tak bisa dilewatkan begitu saja oleh para fans.
Aksi komedi absurd kembali menggila dalam petualangan pelarian penjara yang penuh kekacauan. Setelah berhasil keluar dari jeruji besi yang menyiksa, duo kelinci ini kini harus menghadapi kerasnya dunia luar. Kejar-kejaran seru dengan polisi dan para penjahat siap menguji keberanian mereka di jalanan kota yang sangat berbahaya.
Putin, si kelinci hijau yang naif dan selalu sial, mencoba menjalani hidup damai meski terus terseret dalam masalah. Sifatnya yang lembut sering kali bertolak belakang dengan situasi ekstrem yang harus ia lalui. Ia harus beradaptasi dengan ritme hidup yang sangat kacau bersama rekan satu selnya.
Di sisi lain, ada Kirenenko, kelinci merah temperamental dengan obsesi aneh terhadap sepatu mahal. Kekuatan fisik serta kemarahan meledaknya menjadi kunci sekaligus ancaman bagi siapa pun yang berani menghalangi jalan mereka. Ketegangan di antara keduanya selalu memicu momen komedi yang tak terduga.
Perjalanan mereka terus diwarnai oleh interaksi konyol dengan karakter pendukung seperti Leningrad, katak lucu yang gemar memakan apa saja di sekitarnya. Kehadiran makhluk-makhluk unik ini menambah lapisan keanehan dalam misi mereka, membuat setiap detik pelarian terasa begitu intens sekaligus menghibur.
Apakah mereka mampu meloloskan diri dari kejaran aparat tanpa harus menghancurkan segalanya di sepanjang jalan? Persahabatan tak terduga ini akan diuji oleh takdir yang semakin brutal, menuntut kerja sama meski kepribadian mereka sangat kontras dalam menghadapi setiap rintangan yang ada.