Abis beres urusan Ujian Penyihir Kelas Satu, trio maut kita—Frieren si elf, Stark si petarung, dan Fern yang sekarang udah jadi penyihir kelas satu—akhirnya dapet izin buat masuk ke Dataran Tinggi Utara yang terkenal super bahaya. Sepanjang perjalanan mereka menuju Aureole (tempat jiwa-jiwa berkumpul), mereka harus berhadapan sama musuh-musuh yang makin kuat. Situasi ini maksa Stark buat ngelawan rasa inseskurisnya sendiri demi memantapkan mentalnya sebagai tameng utama di lini depan tim.
Di sisi lain, Fern makin menghargai setiap kemampuan dan hadiah yang dia dapetin selama hidupnya, di mana semua itu jadi pengingat manis tentang orang-orang yang dia sayangi. Sementara itu, Frieren masih setia sama janjinya buat lebih memahami manusia. Dia sering kali nostalgia, nginget-nginget lagi momen petualangannya bareng grup Pahlawan dulu, termasuk kenangan singkatnya saat ketemu sama sosok legendaris di masa lalu.
Melihat waktu yang terus berjalan, Frieren diam-diam sempat ragu dan nanya ke diri sendiri: "Gue sebenernya udah berubah belum, sih?" Tapi uniknya, dari setiap keputusan kecil dan sikap simpel yang dia ambil sekarang, kelihatan jelas kalau Frieren sebenernya udah jadi jauh lebih "manusiawi" dibanding dulu tanpa dia sadari sendiri. Perjalanan emosional mereka pun masih terus berlanjut!
Selama sepuluh tahun keliling dunia demi ngalahin Raja Iblis, geng pahlawan—Himmel, pendeta Heiter, kurcaci Eisen, dan penyihir elf Frieren—udah ngelewatin banyak hal bareng. Dari petualangan seru sampai berantem di medan perang, mereka jadi dekat banget dan punya banyak kenangan manis... ya, setidaknya buat sebagian besar dari mereka. Soalnya buat Frieren, waktu sepuluh tahun itu berasa sebentar banget dibandingin umurnya yang udah seribu tahun lebih.
Makanya, pas urusan sama Raja Iblis kelar dan tim mereka bubar, Frieren santai aja balik ke rutinitas lamanya: keluyuran nyari mantra sihir baru. Karena punya "jam biologis" yang beda sendiri, dia kayak nggak ngerasa petualangan kemarin itu sebagai sesuatu yang spesial. Tapi seiring berjalannya waktu, Frieren baru sadar kalau momen bareng teman-temannya dulu ternyata ngebekas banget di hatinya.
Apalagi setelah dia ngeliat sendiri teman-temannya satu per satu meninggal karena usia. Frieren mulai nyesel karena dulu terlalu cuek dan menganggap remeh kehadiran mereka. Dari situ, dia bertekad buat lebih ngertiin manusia dan pengen punya hubungan yang tulus sama orang lain. Petualangan legendaris mereka emang udah lama beres, tapi perjalanan baru Frieren justru baru mau dimulai.