Abis beres urusan Ujian Penyihir Kelas Satu, trio maut kita—Frieren si elf, Stark si petarung, dan Fern yang sekarang udah jadi penyihir kelas satu—akhirnya dapet izin buat masuk ke Dataran Tinggi Utara yang terkenal super bahaya. Sepanjang perjalanan mereka menuju Aureole (tempat jiwa-jiwa berkumpul), mereka harus berhadapan sama musuh-musuh yang makin kuat. Situasi ini maksa Stark buat ngelawan rasa inseskurisnya sendiri demi memantapkan mentalnya sebagai tameng utama di lini depan tim.
Di sisi lain, Fern makin menghargai setiap kemampuan dan hadiah yang dia dapetin selama hidupnya, di mana semua itu jadi pengingat manis tentang orang-orang yang dia sayangi. Sementara itu, Frieren masih setia sama janjinya buat lebih memahami manusia. Dia sering kali nostalgia, nginget-nginget lagi momen petualangannya bareng grup Pahlawan dulu, termasuk kenangan singkatnya saat ketemu sama sosok legendaris di masa lalu.
Melihat waktu yang terus berjalan, Frieren diam-diam sempat ragu dan nanya ke diri sendiri: "Gue sebenernya udah berubah belum, sih?" Tapi uniknya, dari setiap keputusan kecil dan sikap simpel yang dia ambil sekarang, kelihatan jelas kalau Frieren sebenernya udah jadi jauh lebih "manusiawi" dibanding dulu tanpa dia sadari sendiri. Perjalanan emosional mereka pun masih terus berlanjut!
Bayangin sebuah dunia di mana gelar "Pahlawan" itu bukan sebuah kehormatan, melainkan hukuman mati yang paling kejam. Di sini, para penjahat kelas kakap nggak dipenjara, tapi malah divonis buat jadi tameng di barisan terdepan dalam perang abadi melawan Raja Iblis. Kasihannya lagi, dicap sebagai Pahlawan berarti mereka nggak diizinkan mati dengan tenang; setiap kali tewas di medan perang, mereka bakal langsung dihidupin lagi secara paksa buat dikirim balik ke pembantaian selamanya.
Salah satu korbannya adalah Xylo Forbartz, mantan komandan Ksatria Suci yang terhormat yang sekarang apes harus jadi ketua "Unit Pahlawan Terpidana 9004". Tugas dia adalah memimpin sekelompok narapidana yang dianggap sebagai aset sekali pakai oleh negara yang mereka bela. Tapi di tengah misi yang kacau balau, Xylo gak sengaja ketemu sama Teoritta, sesosok senjata hidup yang dikenal sebagai "Dewi", yang kehadirannya berpotensi ngubah arah perang sekaligus nasib Xylo sendiri.
Ketika unitnya terus-terusan dikasih misi bunuh diri yang makin gak ngotak bahayanya, Xylo harus putar otak buat menjaga anak buahnya tetap hidup. Sembari bertahan di tengah gempuran monster, dia juga mulai bergerak di balik layar demi ngebongkar konspirasi busuk di balik alasan kenapa dia sampai difitnah dan dihukum jadi pahlawan palsu ini!