Dunia fantasi epik ini membawa kita pada pertikaian brutal antara alam liar yang mistis dan kemajuan industri manusia. Saat hutan kuno mulai terancam oleh serakahnya peradaban, dewa-dewa binatang murka dan siap menuntut balas demi menjaga tanah suci mereka.
Seorang pangeran muda bernama Ashitaka terpaksa melakukan perjalanan jauh setelah terkena kutukan mematikan. Demi mencari obat penawar, ia terjebak di tengah pusaran perang yang menghancurkan jiwa antara pihak manusia dan para pelindung hutan tersebut.
Di sisi lain, muncul sosok San, gadis tangguh yang dibesarkan oleh serigala. Ia membenci manusia setengah mati dan mendedikasikan hidupnya untuk menghancurkan mereka. Pertemuan tak terduga antara mereka berdua memicu dinamika rasa benci sekaligus simpati.
Sementara itu, Lady Eboshi memimpin kota besi dengan ambisi besar untuk menundukkan alam. Ia adalah sosok pemimpin visioner namun kejam yang memicu kemarahan hutan. Konflik kepentingannya dengan sang gadis hutan menjadi bensin yang membakar perang besar.
Ketegangan memuncak saat keserakahan bertemu dengan murka alam yang tidak terbendung. Mampukah empati menjembatani jurang perbedaan, atau justru dunia akan musnah karena kebencian? Sebuah mahakarya tentang keberlangsungan hidup dan harga sebuah peradaban.
Kisah magis ini menyoroti kehidupan sekumpulan tanuki di pinggiran Tokyo yang terancam proyek pembangunan perumahan besar-besaran. Makhluk jenaka ini harus memutar otak guna mempertahankan hutan mereka dari invasi manusia yang rakus akan lahan baru.
Pemimpin bijak bernama Oroku berusaha membimbing kawanannya untuk belajar ilmu berubah wujud. Ia meyakini bahwa kemampuan ini adalah kunci utama agar mereka bisa menyusup ke lingkungan manusia dan menyabotase proyek pembangunan yang sangat meresahkan.
Di sisi lain, si pemberani Shoukichi menjadi sosok kunci yang memimpin perlawanan di lapangan. Bersama rekannya, Gonta, ia berupaya keras menggalang kekuatan meski mereka harus menghadapi perbedaan prinsip yang tajam mengenai cara bertahan hidup.
Konflik batin dan perbedaan strategi membuat kelompok ini semakin terpecah. Mereka harus menentukan apakah harus memilih kekerasan demi mengusir manusia, atau justru mencoba beradaptasi dengan dunia modern yang semakin kejam dan tidak ramah bagi para tanuki.
Ketegangan memuncak saat mereka merencanakan serangan besar untuk menakut-nakuti para pekerja proyek. Ini bukan sekadar pertarungan fisik, melainkan ujian besar bagi identitas kaum tanuki dalam mempertahankan warisan budaya di tengah arus modernisasi.