Dunia dikejutkan dengan lahirnya hibrida manusia dan simpanse yang diberi nama Charlie. Makhluk unik ini dibesarkan oleh orang tua angkat manusia dengan penuh kasih sayang, menjalani hidup selayaknya remaja biasa yang duduk di bangku sekolah SMA.
Namun, identitasnya memicu polemik besar di tengah masyarakat. Organisasi ekstremis hewan menilai keberadaannya sebagai eksperimen kejam, sementara pihak lain melihatnya sebagai ancaman eksistensial. Ketegangan pun mulai menyelimuti kehidupan sehari-harinya.
Di sekolah, ia menjalin ikatan persahabatan yang cukup erat dengan Lucy, seorang gadis cerdas yang memandangnya sebagai sosok setara. Kehadiran Lucy menjadi penyeimbang emosional di tengah diskriminasi kejam yang terus menghujani keseharian mereka berdua.
Konflik memuncak ketika serangkaian aksi teror melanda kota, memaksa sang protagonis untuk mempertanyakan hakikat kemanusiaannya sendiri. Ia terjebak dalam perdebatan moral yang rumit mengenai apakah ia adalah anugerah evolusi atau sekadar monster yang berbahaya.
Dalam pertarungan antara keadilan dan prasangka, ia harus memilih jalan hidupnya. Mampukah ia bertahan di dunia yang membenci eksistensinya, atau justru ia akan menjadi kunci kehancuran umat manusia melalui kekuatan naluri hewani yang ia miliki selama ini?
Berlatar di kota pesisir yang tenang, kisah drama slice-of-life ini membawa kita pada keajaiban kata-kata yang terucap. Fokusnya adalah pada kekuatan suara yang mampu menjembatani perasaan, harapan, serta impian masa muda yang sering kali sulit tersampaikan.
Gadis ceria bernama Nagisa selalu percaya pada legenda kotak kata yang mengabulkan permintaan. Namun, keraguan muncul saat ia mencoba mencari jati diri di tengah bisingnya ekspektasi orang dewasa yang menekan masa depannya untuk segera menjadi matang.
Ia mengajak teman-temannya, termasuk si pendiam Kaede dan Shizuku yang analitis, untuk menjalankan stasiun radio mini tak terpakai. Proyek iseng ini perlahan menjadi tempat mereka berbagi keresahan, rahasia terdalam, dan segala isi hati yang terpendam.
Hubungan persahabatan mereka diuji oleh perbedaan pandangan dan trauma masa lalu yang dibawa Kanna. Ketegangan memuncak ketika mereka harus memutuskan apakah akan terus mempertahankan impian idealis atau menyerah pada realitas yang sangat pahit dan menuntut.
Di tengah konflik batin yang mendalam, mereka berusaha menemukan keberanian untuk menyuarakan kejujuran. Apakah frekuensi suara mereka mampu menembus batasan ego dan egoisme demi menyatukan kembali ikatan yang hampir retak oleh waktu yang terus berjalan maju?