Dunia sekolah yang tenang berubah mencekam ketika sebuah aplikasi misterius muncul. Genre psikologis ini menyoroti sisi gelap manusia yang terselubung oleh norma sosial. Ketegangan meningkat saat rahasia kelam mulai terungkap dan menghancurkan reputasi para siswa.
Sosok Hazuki menjadi pusat dari kekacauan ini setelah dirinya sering menjadi target perundungan kejam. Dengan dendam yang membara di dalam hatinya, ia memutuskan untuk mencari cara membalas perlakuan buruk teman-teman sekelasnya yang arogan tersebut.
Berbekal sebuah aplikasi hipnotis, Kakeru kini memegang kendali penuh atas pikiran orang-orang yang dulu menyiksanya. Dinamika hubungan mereka pun berubah drastis dari hubungan pelaku dan korban menjadi permainan kendali pikiran yang sangat manipulatif.
Perseteruan memuncak saat Ayaka terjebak dalam jebakan hipnotis yang merusak moralitas dan jati dirinya sendiri. Pertarungan mental tak terelakkan terjadi di koridor sekolah, di mana batas antara keadilan dan kegilaan mulai kabur dan sangat mengerikan.
Tema balas dendam ini mengeksplorasi betapa rapuhnya harga diri ketika seseorang memiliki kekuatan absolut. Akankah pembalasan ini membawa kedamaian, atau justru malah menghancurkan masa depan mereka sendiri di bawah bayang-bayang manipulasi yang tiada akhir?
Dunia fantasi kelam sedang berada di ambang kehancuran saat pasukan iblis mulai menguasai kerajaan. Di tengah keputusasaan yang melanda, sebuah misi penyelamatan nekat diluncurkan untuk membawa harapan bagi rakyat yang kini hidup dalam bayang-bayang ketakutan.
Pemimpin pasukan elit, Sylas, dikenal sebagai prajurit tangguh yang penuh ambisi. Ia memimpin misi ini dengan tangan besi, namun ia menyimpan obsesi gelap terhadap sosok suci yang ditugaskan untuk memulihkan kedamaian di negeri yang penuh kekacauan.
Celestia adalah seorang wanita suci yang memiliki kekuatan spiritual luar biasa namun sangat naif. Ia terjebak dalam dinamika rumit dengan sang komandan, di mana kesucian dirinya menjadi taruhan di tengah peperangan yang brutal serta mematikan itu.
Hubungan antara keduanya berkembang penuh ketegangan, dipenuhi intrik manipulasi dan hasrat yang tak terelakkan. Sang prajurit terus menekan batas moral, sementara sang gadis suci berjuang keras menjaga kehormatan di tengah gempuran nafsu yang mengancam.
Konflik batin dan fisik terus memuncak saat garis batas antara pengabdian dan perbudakan semakin kabur. Apakah tekad suci mampu bertahan dari kegelapan yang merusak, ataukah kehancuran moral akan menjadi harga mutlak bagi sebuah kemenangan yang berdarah?