Dunia komedi sejarah hadir kembali dengan sentuhan unik. Bayangkan seorang arsitek kekaisaran Romawi Kuno yang tiba-tiba terlempar ke Jepang modern melalui lubang waktu di bak mandi umum. Sebuah kisah fantastis tentang perbedaan budaya yang sangat mengocok perut.
Sosok Lucius Modestus adalah arsitek ambisius yang sedang buntu dalam kariernya. Ia terjebak dalam krisis ide desain pemandian. Ketegasan dan dedikasinya terhadap estetika kuno justru membawa petualangan lintas dimensi yang benar-benar di luar logika.
Di masa depan, ia bertemu dengan penduduk lokal yang sangat menghargai ritual berendam. Teknologi canggih dan keramahan budaya Jepang membuat ia takjub. Konflik batin muncul saat ia mencoba mengadopsi elemen modern ke dalam arsitektur Romawi demi kebanggaannya.
Ia pun bertemu dengan Marcus, rekan atau saingan yang menuntut inovasi lebih besar bagi kaisar. Persaingan ini memicu tekanan hebat bagi sang arsitek. Ia harus berjuang menjaga reputasinya sambil menutupi rahasia mesin waktu yang aneh di dalam pemandian.
Setiap desain yang ia bawa pulang menjadi sensasi besar yang mengubah sejarah pemandian Roma. Namun, bisakah ia terus menyeimbangkan tradisi kuno dengan ide masa depan yang asing? Sebuah perjalanan tentang ambisi, inovasi, dan nikmatnya relaksasi sejati.
Berlatar era kekaisaran Romawi yang megah, komedi unik ini memadukan sejarah kuno dengan sentuhan modern yang tak terduga. Sebuah lubang misterius tiba-tiba menghubungkan pemandian Romawi kuno dengan budaya pemandian Jepang masa kini yang sangat canggih.
Tokoh utamanya adalah Lucius Modestus, seorang arsitek pemandian yang perfeksionis. Ia sedang buntu mencari ide segar bagi karyanya, hingga secara ajaib terlempar ke masa depan setiap kali ia sedang stres dan berendam di air hangat.
Lucius terpesona dengan teknologi Jepang yang ia anggap sebagai peradaban berkulit datar yang ajaib. Ia mencoba mengadaptasi ide-ide brilian dari masyarakat Jepang modern untuk membangun kembali kejayaan pemandian di kota Roma yang sedang lesu.
Sang kaisar, Hadrianus, menaruh kepercayaan besar pada visi Lucius untuk memajukan kekaisaran. Namun, ia tidak tahu bahwa inspirasi luar biasa arsitek kesayangannya itu datang dari mesin penjual otomatis dan bak mandi plastik di masa depan.
Perjalanan lintas waktu ini memaksa Lucius menghadapi dilema etika dan tantangan fisik yang konyol. Mampukah ia menjaga rahasia besar ini sambil berupaya membawa kenyamanan modern ke masa lalu, atau justru kejutan budaya ini malah menghancurkan kariernya?