Antologi eksperimental ini membawa penonton melintasi batas imajinasi liar yang mendobrak pakem anime konvensional. Melalui gaya visual unik dan narasi surealis, film ini mengeksplorasi kondisi manusia dalam dunia yang terus berubah tanpa kompromi logika.
Di tengah kekacauan, Gala berusaha menavigasi realitas yang retak. Dia adalah sosok penuh tekad yang terjebak dalam pusaran konflik eksistensial, mencoba memahami perannya di dunia yang seolah tidak memiliki batasan fisik maupun emosi nyata.
Pertemuannya dengan Frog memicu dinamika batin yang kompleks. Hubungan mereka bukan sekadar persahabatan, melainkan cerminan dari pergulatan identitas dan keraguan diri. Keduanya saling terikat dalam situasi genting yang memaksa mereka untuk terus maju.
Konflik memuncak saat Wanwa muncul menantang status quo yang ada. Kehadirannya menguji keteguhan hati para karakter, memicu pertentangan nilai yang mendalam tentang arti kebebasan, tanggung jawab, dan keberanian untuk menghadapi masa depan yang sangat abstrak.
Tema besar tentang pencarian jati diri menyatu dalam visual yang memukau. Setiap langkah mereka adalah refleksi dari harapan di tengah ketidakpastian, mempertanyakan seberapa jauh seseorang bisa melangkah ketika realitas sudah kehilangan bentuk aslinya.