Shounen (atau shōnen, 少年) secara harfiah berarti "anak laki-laki". Dalam industri manga dan anime Jepang, istilah ini merujuk pada demografi target—yaitu karya yang ditujukan untuk remaja laki-laki berusia sekitar 12 hingga 18 tahun.
Buat Kenma Kozume, voli itu nggak pernah terasa seru atau bikin deg-degan; baginya, itu cuma sesuatu yang kebetulan dia jago. Tapi sekarang, tim voli SMA Nekoma udah lolos ke Turnamen Musim Semi dan siap buat tanding lawan rival bebuyutan mereka, Karasuno. Sekarang, Kenma harus memutar otak buat menganalisis tim yang paling bikin pusing dan ulet itu demi membawa Nekoma meraih kemenangan.
Ditambah lagi, dia bakal main lawan temannya sendiri, Shouyou Hinata, si middle blocker Karasuno yang badannya mungil tapi kemampuannya gila banget. Karasuno emang belum pernah bisa menang lawan Nekoma di pertandingan latihan. Meski begitu, walau biasanya dia orangnya masa bodoh, Kenma ngerasa ada rasa antusias yang muncul pas bayangin bakal ketemu Karasuno di laga resmi yang taruhannya gede banget dan nggak bisa diulang.
Buat bisa melaju ke semifinal dan balikin kejayaan tim mereka, Karasuno harus cari cara buat menembus strategi brilian Kenma dan ngalahin Nekoma di kandang mereka sendiri.
Musim kedua ini membawa kita kembali ke kehidupan sekolah yang penuh gejolak emosi. Dinamika antara dua remaja yang awalnya canggung kini mulai memasuki fase baru yang lebih dalam. Ketegangan romantis pun meningkat seiring munculnya berbagai tantangan.
Kyotaro Ichikawa, seorang penyendiri yang penuh imajinasi gelap, kini harus menghadapi kenyataan bahwa dunianya telah berubah. Kehadiran sosok yang ia kagumi terus menguji dinding pertahanan emosionalnya dan perlahan menghancurkan rasa minder dirinya.
Di sisi lain, Anna Yamada yang populer dan ceria justru menunjukkan sisi rapuh yang hanya diketahui oleh sang protagonis. Interaksi mereka bukan lagi sekadar rahasia, melainkan sebuah ikatan tulus yang mulai membuat jantung berdegup lebih kencang.
Konflik internal kian mendalam saat keduanya berupaya jujur pada perasaan masing-masing. Tekanan sosial dan keraguan diri seringkali menghambat langkah mereka, namun momen-momen manis di sekolah menjadi pengingat bahwa cinta bisa tumbuh di tempat tak terduga.
Menuju puncak cerita, batasan antara teman dan kekasih semakin kabur. Apakah mereka mampu mengatasi kecanggungan dan ego masing-masing? Musim ini menjanjikan perjalanan emosional yang menggetarkan hati tentang keberanian untuk mencintai dan menerima diri.