Akademi Shuchiin adalah tempat berkumpulnya para elite masa depan. Di tengah gemerlap prestasi, muncul sebuah persaingan cinta yang absurd. Ini bukan tentang menyatakan perasaan dengan tulus, melainkan tentang siapa yang bisa menjebak lawannya lebih dulu.
Siswa jenius Kaguya Shinomiya merupakan wakil ketua OSIS yang kaya raya dan dingin. Ia terjebak dalam rasa suka terhadap sang ketua, namun harga dirinya yang tinggi melarangnya untuk mengaku. Baginya, cinta adalah kelemahan yang harus ditaklukkan.
Di sisi lain, ada Miyuki Shirogane, seorang pekerja keras yang menduduki posisi puncak berkat ketekunannya. Meski saling mencintai, mereka berdua terlalu gengsi. Keduanya saling memutar otak untuk merancang strategi agar pihak lawan menyatakan cinta duluan.
Pertarungan psikologis ini makin seru berkat intervensi sekretaris polos bernama Chika Fujiwara. Kehadirannya sering kali merusak rencana canggih kedua tokoh utama, menciptakan kekacauan lucu di ruang OSIS yang seharusnya tenang dan sangat serius.
Setiap hari di sekolah menjadi ajang perang taktik yang menguras emosi serta logika. Apakah mereka akan terus terjebak dalam ego masing-masing? Inilah drama komedi romantis tentang dua insan jenius yang justru menjadi bodoh saat berurusan dengan cinta.
Dunia psikis yang kacau kembali bergejolak, memadukan komedi absurd dengan aksi supranatural yang intens. Shigeo Kageyama, remaja berkekuatan esper luar biasa, berusaha menyeimbangkan kehidupan sekolah yang biasa dengan tanggung jawab membasmi roh jahat.
Sebagai mentor yang licik, Arataka Reigen terus memanfaatkan kemampuan Shigeo Kageyama demi keuntungan pribadi. Namun, hubungan guru dan murid ini perlahan diuji saat mereka menghadapi ancaman roh-roh keji yang semakin kuat dan licik di kota.
Shigeo Kageyama kini mulai memahami emosi manusia yang kompleks. Ia berjuang menekan ledakan emosinya yang bisa menghancurkan segalanya. Di sisi lain, Ekubo sang roh penasaran selalu mengintai, menunggu celah untuk kembali berkuasa atas dunia.
Konflik batin sang protagonis kian memuncak saat ia dihadapkan pada pilihan moral sulit. Apakah ia harus menggunakan kekuatannya untuk menolong sesama atau justru menghindar demi kedamaian? Tekanan dari lingkungan sosial membuatnya semakin merasa terisolasi dan bimbang.
Pertempuran epik menanti di depan mata, memaksa Shigeo Kageyama menghadapi musuh yang mengincar kelemahan psikisnya. Apakah jati diri sejatinya sebagai manusia normal akan bertahan, atau ia akan tunduk pada kehancuran yang tak terelakkan dari kekuatan besar?