Pubertas sering kali dianggap sebagai masa yang penuh gejolak emosi. Namun, bagi sebagian remaja, masa ini menghadirkan fenomena aneh yang disebut Sindrom Pubertas. Keanehan supranatural ini mampu memanifestasikan ketakutan dan keinginan mereka menjadi nyata.
Sakuta Azusagawa adalah remaja penyendiri yang sempat mengalami trauma masa lalu. Hidupnya yang tenang tiba-tiba berubah saat ia melihat seorang gadis cantik mengenakan kostum kelinci mencolok berjalan sendirian di tengah perpustakaan sekolah yang sepi.
Gadis itu adalah Mai Sakurajima, seorang aktris ternama yang sedang hiatus. Ternyata, ia terkena Sindrom Pubertas yang membuatnya perlahan menghilang dari ingatan orang-orang sekitar. Hanya Sakuta yang bisa melihat sosoknya di tengah keputusasaan sang gadis.
Keduanya pun terjebak dalam hubungan unik yang penuh misteri. Sembari berusaha menyelamatkan eksistensi Mai dari kelupaan dunia, mereka harus menghadapi berbagai korban sindrom lain yang terjebak dalam dilema batin mendalam akibat tekanan hidup remaja.
Dapatkah mereka mengurai benang kusut di balik fenomena psikis yang menghantui ini? Di balik dialog yang tajam dan situasi absurd, tersimpan perjuangan menyentuh tentang pencarian jati diri, pengakuan eksistensi, dan cara menghadapi trauma di masa muda.
Dunia lari estafet jarak jauh yang penuh keringat menjadi panggung utama drama olahraga ini. Sepuluh mahasiswa dari berbagai latar belakang terpaksa bersatu demi ambisi gila menaklukkan Hakone Ekiden, ajang lari maraton paling bergengsi di Jepang.
Pertemuan tak terduga antara mantan pelari elit Kakeru Kurahara dan mahasiswa tingkat empat Haiji Kiyose memicu segalanya. Haiji dengan gigih memaksa rekan satu asrama yang tidak berpengalaman untuk mulai berlatih keras demi impian tersebut.
Hubungan mereka penuh ketegangan karena Kakeru yang tertutup sering berkonflik dengan teman-teman barunya. Sifat keras kepala dan masa lalu Kakeru yang kelam menjadi hambatan utama dalam membangun kerja sama tim yang solid untuk menghadapi kerasnya latihan fisik.
Anggota lain seperti si kembar Joji dan Jota, serta veteran Akane harus berjuang melawan rasa ragu. Mereka yang awalnya enggan, perlahan mulai menemukan alasan pribadi untuk terus berlari di bawah bimbingan Haiji yang sangat ambisius.
Menghadapi tekanan publik dan keterbatasan kemampuan, mereka harus melampaui batas diri sendiri. Apakah sekelompok pelari amatir ini mampu menyatukan tekad dan ritme langkah untuk mencapai garis finis di tengah kuatnya hembusan angin yang menantang jiwa?