Sebuah entitas misterius dikirim ke bumi untuk mengamati dunia tanpa memiliki identitas atau emosi. Makhluk ini mampu berubah bentuk menjadi apa pun yang ditemuinya setelah mengalami kematian, memulai perjalanan panjang melintasi waktu demi mencari makna hidup yang sejati.
Awalnya, ia mengambil wujud batu, lalu lumut, hingga akhirnya meniru seorang anak laki-laki kesepian bernama Fushi. Dalam wujud manusianya, ia mulai merasakan hangatnya ikatan manusia dan belajar memahami rasa sakit, kehilangan, serta kasih sayang.
Dalam pengembaraannya, ia bertemu sosok pemberani seperti March yang mengajarinya arti kepedulian. Namun, keberadaannya memicu ancaman dari makhluk asing yang berusaha mencuri wujudnya, memaksa ia harus terus beradaptasi demi melindungi mereka yang ia sayangi.
Konflik batin terus menghantuinya saat ia menyaksikan kefanaan manusia yang kontras dengan keabadian dirinya. Ia harus menghadapi kenyataan pahit bahwa setiap pertemuan selalu berujung pada perpisahan, menjadikannya sosok yang terus tumbuh melalui duka mendalam.
Apakah ia akan mampu memahami jiwa manusia sepenuhnya di tengah kekacauan dunia? Kisah ini adalah perjalanan epik tentang eksistensi, di mana setiap momen berharga dirajut menjadi kekuatan untuk bertahan hidup dalam dunia yang penuh dengan luka dan harapan.
Republik San Magnolia mengklaim perang mereka melawan Kekaisaran Giad tak memakan korban jiwa berkat teknologi drone otomatis. Namun, di balik propaganda itu, ada distrik ke-86 yang dihuni manusia yang dianggap bukan manusia demi mengoperasikan mesin perang.
Lena adalah seorang perwira muda yang jujur namun naif, ditugaskan memimpin skuadron elit dari distrik terlarang tersebut. Ia mulai menyadari kebenaran kelam di balik perang ini melalui komunikasi radio jarak jauh dengan pasukannya setiap hari.
Di garis depan, Shin memimpin skuadron Spearhead dengan ketenangan yang dingin. Sebagai sosok veteran yang dijuluki si Penuai, ia memikul beban hidup rekan-rekannya sementara harus menghadapi kenyataan pahit bahwa nyawa mereka hanyalah alat buang.
Hubungan antara keduanya tumbuh melalui suara di radio, melintasi batas diskriminasi yang mematikan. Mereka terjebak dalam dilema moral di mana sang komandan ingin menyelamatkan mereka, namun sang prajurit sudah terbiasa menanti ajal di medan laga.
Di tengah dentuman meriam dan kematian yang mengintai, mereka berjuang menentang sistem yang memandang sebelah mata eksistensi mereka. Akankah idealisme mampu menembus tembok kebencian, atau justru hancur lebur ditelan mesin perang yang kejam ini?