Pas tahun ajaran udah mau kelar, ujian akhir pun tiba di Akademi Sihir Rigarden. Biarpun dia satu-satunya murid yang kagak punya bakat sihir sama sekali, Will Serfort tetep ambis buat dapet nilai sempurna di semua mata pelajaran. Target dia cuma satu: biar bisa naik ke Menara Penyihir dan kumpul lagi sama teman masa kecilnya yang udah jadi penyihir elite, Elfaria Albis Serfort. Sialnya, kerja keras Will langsung hancur berantakan gara-gara dia sengaja digagalin di ujian paling terakhir yang penilaiannya super tidak adil, bikin dia otomatis diskualifikasi buat masuk ke Menara.
Di waktu yang bersamaan, Elfaria dan para Magia Vander—lima penyihir paling OP di dunia—lagi sibuk ngelakuin ritual tahunan buat ngelindungin dunia dari ancaman makhluk langit (Celestial Hosts). Masalahnya, ritual ini bikin energi sihir para Magia Vander terkuras habis buat sementara waktu. Di momen kritis itulah, segerombolan besar pasukan monster mendadak muncul dan ngebantai para penyihir serta warga sipil secara brutal.
Parahnya lagi, para penyihir di akademi sama sekali gak bisa berkutik karena monster-monster itu bawa senjata khusus yang bisa nge-batalin segala jenis sihir (magic nullification). Pas semua orang udah pasrah dan putus asa, Will bareng keahlian pedangnya yang udah level dewa langsung maju ke garis depan. Tanpa modal sihir sedikit pun, Will justru jadi satu-satunya kunci dan harapan terakhir buat nge-carry umat manusia dan menghentikan invasi tersebut!
Bagi Ibuki Tonami, minum alkohol adalah jalan ninjanya buat melepas penat dari tugas kuliah sekaligus tanggung jawabnya sebagai pengawas asrama (resident assistant). Masalahnya, Ibuki punya trauma masa lalu yang bikin dia insekyur setengah mati: dia selalu cegukan tiap kali minum alkohol. Karena malu dan takut dihakimi orang lain, dia akhirnya milih buat selalu minum sendirian di pojokan kamar sambil menikmati waktu me-time-nya.
Tapi, rutinitas menyendiri Ibuki mulai terusik pas ada mahasiswi baru tahun pertama bernama Botan Kamiina pindah ke asrama yang sama. Suatu hari pas anak-anak asrama lagi main keluar, Botan gak sengaja mergokin Ibuki yang lagi asyik minum sendirian. Meskipun seumur-umur belum pernah nyentuh alkohol, Botan penasaran banget sama minuman yang dipegang seniornya itu. Ibuki yang gak enakan akhirnya ngebagi minumannya, dan siapa sangka—Botan yang aslinya kalem, sopan, dan ceria, mendadak berubah 180 derajat jadi cewek agresif yang hobi tebar pesona pas lagi mabok!
Kejadian random itu malah bikin anak-anak asrama lain syok pas tahu kalau Ibuki yang menutup diri sekarang malah sering ritual minum bareng Botan. Bagi Botan, setiap jenis minuman baru yang dia cobain bareng Ibuki selalu berubah jadi kenangan manis yang bikin nagih. Lewat momen-momen minum berdua inilah, Botan punya misi rahasia buat pelan-pelan narik Ibuki keluar dari zona nyamannya, biar suatu hari nanti mereka berdua bisa seru-seruan minum bareng seluruh anak asrama!
Abis pertempuran hidup-mati di Kota Air Priestella, Subaru dan teman-temannya emang menang, tapi bayarannya mahal banget. Gara-gara kekuatan "Keserakahan" (Gluttony), Rem koma nggak bangun-bangun, ingatan Crusch habis dimakan, sampai-sampai nama Julius pun dilupain sama semua orang. Pas lagi pusing nyari cara buat nyelametin mereka, Subaru denger rumor tentang si "Bijak" Shaula—sosok serba tahu yang katanya punya segala macam ilmu.
Tujuan Subaru selanjutnya adalah Menara Pengawas Pleiades, tempat tinggal si Bijak yang ada di ujung gurun pasir misterius bernama Bukit Pasir Auguria. Tempat ini bahaya banget, bahkan Reinhard si "Ksatria Pedang" paling sakti aja pernah gagal nembus ke sana. Gurunnya ekstrem, banyak monster sihir aneh, pokoknya isinya bahaya maut semua, deh.
Tapi demi mengembalikan apa yang udah hilang, Subaru bareng teman-temannya nekat berangkat dan mempertaruhkan nyawa mereka sekali lagi buat nerobos gurun maut tersebut. Perjalanan epik mereka pun dimulai!