Jadi, si kakek tua atau yang biasa dipanggil Roujin ini tiba-tiba aja terbangun di sebuah bar yang namanya Quindecim tanpa ingat gimana caranya dia bisa sampai ke sana. Dia kelihatan bingung banget, apalagi waktu dia sadar kalau dia harus main biliar lawan seorang pemuda biar bisa keluar dari tempat itu. Kesannya dia cuma kakek biasa yang kelihatan agak lamban, tapi ternyata ada sesuatu yang disembunyikan di balik tatapan matanya yang teduh.
Sepanjang permainan, Roujin nunjukin sikap yang tenang banget, beda banget sama lawan mainnya yang emosian dan panik. Dia tuh tipe orang yang mikir panjang sebelum bertindak, bahkan pas situasi mulai makin tegang dan taruhannya nyawa, dia tetap berusaha menjaga pembawaan diri. Dia nggak banyak nuntut atau marah-marah, justru dia malah berusaha buat tetap sopan meskipun suasana bar itu sendiri bikin merinding.
Pada akhirnya, terungkap kalau Roujin sebenarnya punya masa lalu yang cukup berat dan penuh penyesalan. Dia bukan cuma sekadar kakek tua yang nyasar, tapi jiwanya lagi dihakimi oleh Decim buat nentuin apakah dia bakal direinkarnasi atau masuk ke kehampaan. Bisa dibilang, perjalanannya di bar itu jadi momen refleksi terakhir sebelum dia benar-benar melepas beban hidupnya yang selama ini dia simpan sendiri.