Kalau kita bicara soal Shigemaru, dia ini awalnya cuma pemuda desa biasa yang hidupnya lurus-lurus aja. Dia dikenal sebagai anak yang cukup polos dan menjalani hari-harinya dengan tenang, sampai akhirnya takdir mempertemukannya dengan seorang bangsawan yang karismatik tapi punya aura yang bikin nggak nyaman. Pertemuan ini jadi titik balik buat dia, karena dari sini rasa ingin tahunya mulai berubah jadi obsesi yang nggak sehat.
Masalah mulai muncul pas Shigemaru mulai terjebak dalam ambisi pribadi yang makin lama makin gelap. Dia yang dulunya cuma orang biasa, pelan-pelan berubah jadi sosok yang terobsesi pengen dapet pengakuan dan kekuasaan, bahkan sampai rela ngelakuin hal-hal yang nggak seharusnya demi mencapai keinginannya itu. Perubahan sikapnya ini bener-bener ngerusak hubungan dia sama orang-orang di sekitarnya.
Sayangnya, akhir perjalanan Shigemaru di cerita ini emang cukup tragis. Dia kayak terjebak dalam dunianya sendiri yang penuh tipu daya dan kegelapan, sampai akhirnya dia harus nanggung konsekuensi atas semua keputusan yang dia ambil. Cerita dia tuh jadi pengingat banget sih, gimana rasa haus akan sesuatu yang bukan hak kita bisa ngerusak moral dan masa depan seseorang secara perlahan.