Satu-satunya hal yang bikin Sasaki—seorang om-om pekerja kantoran yang hidupnya bosenin—bisa bertahan dari kerjaannya yang fana adalah senyuman ceria dari Yamada. Yamada ini adalah kasir cewek muda di supermarket 24 jam langganannya. Pokoknya, tiap kali abis capek diomelin sama bos di kantor, Sasaki pasti bakal mampir ke sana cuma buat "healing" dan ngeliat senyum manis si kasir favoritnya itu.
Sampai suatu hari yang melelahkan banget, Sasaki lemas pas tahu kalau sif kerjanya Yamada udah kelar pas dia dateng. Kecewa berat, dia akhirnya nyari pojokan di belakang toko buat ngerokok sendirian. Pas lagi galau, mendadak ada cewek berpenampilan gothic nan nyentrik bernama Tayama yang manggil dan ngajakin dia ngerokok bareng. Tayama yang blak-blakan dan suka ngegoda ini langsung ngebongkar kebiasaan Sasaki yang diam-diam selalu nyariin Yamada, bahkan ngancem bakal ngadu ke Yamada langsung!
Sejak kejadian itu, rutinitas mampir ke supermarket milik Sasaki jadi nambah satu agenda baru: nyari tahu apakah partner ngerokoknya, si Tayama, lagi nongkrong di belakang toko atau nggak. Tapi sebenarnya, Tayama punya rahasia besar nan kocak yang sengaja dia sembunyiin dari om-om polos ini. Dari setiap isapan rokok dan obrolan random di pojokan sepi itulah, sebuah hubungan pertemanan yang unik dan bikin gemas pelan-pelan mulai tumbuh di antara mereka.
Di kota resor tepi laut Atami yang tenang, ada sebuah laundry bernama Kinme Cleaning yang dikelola oleh Wakana Kinme. Meski nggak ingat apa pun soal hidupnya sebelum pindah ke sana, Wakana sudah menghabiskan dua tahun terakhir membangun hidup baru dengan tenang di antara warga setempat. Ia mencuci baju-baju titipan pelanggan dengan penuh ketelitian dan kelembutan, seolah setiap helai kain itu menyimpan kenangan yang jauh lebih rapuh daripada bahannya sendiri.
Wakana pun jadi sosok yang akrab bagi warga kota karena ia sering berbagi momen-momen kecil yang berharga dengan mereka. Pakaian yang ia cuci seakan menceritakan kisah hidup sehari-hari pemiliknya, sehingga ia bisa ikut menjaga kenangan mereka sementara ingatannya sendiri tetap terkunci rapat. Sambil terus membersihkan noda, baik yang fisik maupun yang ada di hati, hidupnya perlahan jadi bukti nyata betapa nyamannya momen-momen sederhana itu.
Lewat setiap cucian, Wakana membuktikan bahwa meskipun ia kehilangan masa lalunya, ia tetap bisa menemukan tempat untuk pulang dan merasa diterima di tengah orang-orang di sekitarnya.