Sebuah drama romansa dewasa yang melankolis menanti di balik gemericik hujan. Kisah ini menjelajahi batasan perasaan yang tak terduga antara dua insan dengan latar belakang kehidupan yang sangat kontras, namun disatukan oleh sebuah ruang kerja sederhana.
Akira Tachibana adalah siswi SMA atletis yang dulunya pelari cepat, namun kini ia terpuruk karena cedera. Hari-harinya terasa hambar hingga ia mulai menaruh hati pada sosok pria paruh baya yang bekerja sebagai manajer di restoran tempatnya bekerja.
Pria itu adalah Masami Kondo, seorang duda yang hidupnya biasa saja dan cenderung ceroboh. Kehadiran Akira yang penuh semangat dan lugas secara perlahan mulai mengusik ketenangan hidupnya, menciptakan dinamika unik antara kekaguman dan keraguan usia.
Kesenjangan usia yang lebar serta perbedaan status sosial menjadi konflik utama dalam hubungan mereka yang abu-abu. Akira berusaha mengejar cinta sejati, sementara Kondo merasa dirinya terlalu tua untuk memberikan harapan bagi masa depan gadis belia tersebut.
Di sela-sela rutinitas yang menjemukan, benih perasaan mulai tumbuh di tengah derasnya hujan kehidupan. Akankah mereka berani menghadapi kenyataan, atau justru membiarkan mimpi-mimpi masa muda dan penyesalan masa lalu terkubur dalam sunyinya waktu?
Dunia berubah selamanya ketika sebuah ledakan cahaya misterius di taman mengubah nasib dua manusia biasa. Bergenre aksi fiksi ilmiah, kisah ini mengeksplorasi garis tipis antara kemanusiaan dan mesin di tengah kota Tokyo yang modern dan penuh dengan kekacauan.
Seorang kakek paruh baya bernama Ichiro Inuyashiki yang sering diabaikan keluarganya tiba-tiba memiliki tubuh robot canggih. Ia pun memutuskan menggunakan kekuatan baru tersebut untuk menolong orang lain demi mendapatkan kembali rasa kemanusiaan.
Di sisi lain, seorang remaja penyendiri bernama Hiro Shishigami mendapatkan kekuatan serupa namun dengan moralitas yang berbanding terbalik. Ia memilih menjadi pembantai kejam yang merasa dirinya hanya hidup saat melihat orang lain menderita kesakitan.
Benturan ideologi antara sosok penyelamat dan sang pembunuh berdarah dingin menciptakan tensi tinggi yang mencekam. Pertarungan fisik serta mental di antara mereka menjadi inti cerita yang mengguncang nurani siapa pun yang melihat aksi destruktif tersebut.
Apakah teknologi dapat menggantikan hati nurani manusia saat menghadapi takdir kelam? Pertempuran moral ini menantang pemirsa untuk merenungkan makna menjadi pahlawan di tengah dunia yang makin kehilangan empati serta kebaikan di balik modernisasi teknologi.