Nippon Sangoku: The Three Nations of the Crimson Sun
12 Episode 6
Sinopsis
Jepang yang dulunya terkenal sebagai puncak peradaban modern sekarang tinggal kenangan. Gara-gara perang saudara dan runtuhnya teknologi, negara ini malah mundur lagi ke zaman pasca-Meiji dan terpecah jadi tiga wilayah kekaisaran: Yamato, Buo, dan Seii. Di tengah kekacauan itu, ada cowok umur 15 tahun pencinta literatur bernama Aoteru Misumi yang punya mimpi mulia buat ngebangkitin lagi budaya dan teknologi kejayaan masa lalu negaranya.
Awalnya sih Aoteru cuma modal teori doang dan mager buat bertindak nyata. Tapi, sebuah kejadian tragis maksa dia buat merantau ke Osaka demi masuk militer, dengan ambisi gokil: pengen nyatuin kembali seluruh Jepang di bawah benderanya sendiri! Sialnya, Osaka yang dulunya kota megah sekarang udah berubah jadi sarang kriminalitas tinggi, sampai-sampai Aoteru hampir aja mati konyol di sana.
Untungnya, nyawa Aoteru berhasil diselamatkan oleh cowok ambisius seumurannya bernama Yoshitsune Asama yang ternyata punya mimpi yang sama. Berbekal otak encer Aoteru dalam menyusun strategi dan keahlian pedang Yoshitsune yang dewa banget, duet maut ini akhirnya resmi memulai petualangan mereka buat mengembalikan kejayaan Jepang!
Abis beres urusan Ujian Penyihir Kelas Satu, trio maut kita—Frieren si elf, Stark si petarung, dan Fern yang sekarang udah jadi penyihir kelas satu—akhirnya dapet izin buat masuk ke Dataran Tinggi Utara yang terkenal super bahaya. Sepanjang perjalanan mereka menuju Aureole (tempat jiwa-jiwa berkumpul), mereka harus berhadapan sama musuh-musuh yang makin kuat. Situasi ini maksa Stark buat ngelawan rasa inseskurisnya sendiri demi memantapkan mentalnya sebagai tameng utama di lini depan tim.
Di sisi lain, Fern makin menghargai setiap kemampuan dan hadiah yang dia dapetin selama hidupnya, di mana semua itu jadi pengingat manis tentang orang-orang yang dia sayangi. Sementara itu, Frieren masih setia sama janjinya buat lebih memahami manusia. Dia sering kali nostalgia, nginget-nginget lagi momen petualangannya bareng grup Pahlawan dulu, termasuk kenangan singkatnya saat ketemu sama sosok legendaris di masa lalu.
Melihat waktu yang terus berjalan, Frieren diam-diam sempat ragu dan nanya ke diri sendiri: "Gue sebenernya udah berubah belum, sih?" Tapi uniknya, dari setiap keputusan kecil dan sikap simpel yang dia ambil sekarang, kelihatan jelas kalau Frieren sebenernya udah jadi jauh lebih "manusiawi" dibanding dulu tanpa dia sadari sendiri. Perjalanan emosional mereka pun masih terus berlanjut!