Antologi ini menyuguhkan drama potongan kehidupan yang menyentuh hati melalui tiga kisah pendek di kota besar Tiongkok. Fokusnya adalah pada kenangan masa kecil, cinta yang tumbuh, dan perubahan zaman yang membawa melankolis bagi setiap jiwa yang sedang beranjak dewasa.
Kisah pertama mengikuti Xiao Ming, seorang pemuda yang merindukan cita rasa mi dari kampung halamannya. Baginya, semangkuk mi bukan sekadar makanan, melainkan pengingat akan kasih sayang sang nenek dan momen-momen hangat di masa kecil yang kini terasa jauh.
Selanjutnya, kita bertemu Yi Lin, seorang model cantik yang berjuang mempertahankan kariernya di tengah tekanan persaingan ketat. Hubungannya dengan sang adik menjadi titik balik emosional saat ia harus memilah antara impian duniawi dan nilai keluarga yang tulus.
Lalu ada Li Mo, pria yang terobsesi mengejar cinta masa lalunya. Lewat kaset rekaman lama, ia mencoba menelusuri jejak perasaan yang pernah tertunda. Konflik batinnya memuncak saat ia menyadari bahwa waktu takkan menunggu seseorang yang terus terjebak dalam memori.
Ketiga kisah ini merajut benang merah tentang kehilangan dan harapan di tengah arus modernisasi. Dengan visual yang memanjakan mata, setiap karakter menghadapi realita pahit untuk memahami bahwa masa lalu adalah fondasi berharga dalam melangkah menuju masa depan.
Hujan turun menyelimuti Tokyo, membawa suasana melankolis yang indah dalam drama romansa penuh emosi ini. Di tengah hiruk-pikuk kota, sebuah taman Jepang menjadi tempat perlindungan bagi dua jiwa yang merasa terasing dari kehidupan sehari-hari mereka yang rumit.
Takao Akizuki, seorang siswa SMA yang bercita-cita menjadi pembuat sepatu, kerap bolos sekolah saat hujan demi merancang desainnya. Kebiasaannya membawanya bertemu dengan sosok misterius yang selalu duduk sendirian di taman sambil menikmati bir pagi.
Sosok itu adalah Yukari Yukino, seorang wanita dewasa yang menyimpan beban hidup berat. Keduanya pun terjebak dalam obrolan hangat yang melampaui perbedaan usia. Pertemuan di bawah guyuran hujan menjadi satu-satunya pelarian dari realita yang menghimpit.
Keterikatan mereka tumbuh lewat percakapan sederhana tentang kehidupan, namun kenyataan pahit perlahan muncul di permukaan. Ketidakpastian akan masa depan dan rahasia yang disimpan masing-masing mulai menguji kedekatan hubungan yang mereka bangun dengan sangat hati-hati.
Saat musim hujan akan segera berakhir, emosi yang terpendam pun kian meluap dalam kesunyian taman. Apakah mereka mampu menemukan makna dari perasaan yang tak terucapkan ini sebelum cuaca berubah dan membawa kembali hiruk-pikuk dunia yang dingin bagi mereka?
Dunia futuristik yang tenang menjadi latar belakang drama slice-of-life menyentuh ini. Mengisahkan dinamika keluarga di tengah kesibukan kota modern yang dingin, cerita mengeksplorasi jarak emosional yang sering kali tumbuh tanpa kita sadari dalam keseharian.
Aya Okamura kini telah tumbuh dewasa dan hidup mandiri jauh dari rumah. Kesibukan karier membuatnya lupa akan kehangatan masa kecil. Ia mulai merasa terasing dari kehidupannya sendiri saat rutinitas melelahkan perlahan mengikis rasa syukur di hatinya.
Di sisi lain, sang ayah bernama Koji Okamura menjalani hari-hari dengan kesepian setelah istrinya tiada. Meski mereka tinggal terpisah, sang ayah tetap setia merawat kucing peliharaan mereka sebagai satu-satunya penghubung memori tentang sosok sang putri.
Konflik batin muncul saat kenangan masa lalu perlahan menghantui pikiran mereka berdua. Mereka terjebak dalam rasa rindu yang tak tersampaikan, di mana komunikasi menjadi barang mahal yang sulit diwujudkan di tengah dunia yang terus bergerak dengan sangat cepat.
Sebuah momen tak terduga akhirnya memicu refleksi mendalam tentang arti kasih sayang keluarga. Melalui tatapan penuh makna, mereka mencoba menjembatani retakan hubungan yang sempat melebar, demi menemukan kembali arti rumah yang selama ini telah hilang terlupakan.