Edo tahun 1814 adalah tempat penuh keajaiban dan hiruk-pikuk kehidupan seniman. Di tengah kota yang semarak itu, seni lukis menjadi napas bagi masyarakat. Suasana historis berpadu dengan unsur supranatural yang kental, menyajikan potret kehidupan para pelukis legendaris yang mencoba mengabadikan dunia melalui goresan kuas mereka.
Sosok O-Ei adalah perempuan tangguh yang memiliki bakat luar biasa besar. Ia menghabiskan hari-harinya di balik bayang-bayang sang ayah, Tetsuzo, seorang pelukis jenius yang eksentrik. Hubungan keduanya yang rumit menciptakan dinamika menarik antara rasa hormat dan persaingan artistik yang sangat sengit.
Meskipun sering dianggap remeh oleh dunia karena gendernya, dia tetap teguh berkarya dengan gaya tegasnya. Dia memikul beban ekspektasi sekaligus kebebasan berekspresi di masa sulit. Pertentangan batinnya menjadi inti narasi, saat ia mencari identitas diri di antara bayang-bayang sang maestro yang sangat besar.
Interaksi antara mereka tidak hanya terbatas pada kanvas, tetapi juga merambah ke ranah mistis yang sering mengganggu pikiran mereka. Kehadiran adik perempuannya yang buta, O-Nao, menambah kedalaman emosional dan kerentanan yang menyentuh hati, menuntut perhatian lebih di tengah kesibukan melukis yang tak pernah usai.
Karya seni bukan sekadar pelarian, melainkan cerminan jiwa yang terbelah antara realita pahit dan imajinasi liar. Saat garis tipis dunia nyata dan alam gaib mulai kabur, setiap sapuan kuas menjadi saksi bisu perjuangan seseorang yang ingin diakui keberadaannya melampaui sekadar nama besar keluarga.