Dunia terbelah menjadi dua perspektif yang saling bertolak belakang akibat tragedi sains masa lalu. Di bawah tanah, orang-orang hidup dalam terowongan sempit, sementara di permukaan, langit biru membentang luas. Keduanya hidup dalam ketakutan akan hukum gravitasi.
Patema adalah seorang putri remaja yang penasaran dengan dunia terlarang di atas sana. Saat ia menjelajahi zona terlarang, kecelakaan membuatnya terjatuh ke dunia permukaan. Ia pun bertemu dengan seorang pemuda penyendiri bernama Age di sana.
Pertemuan mereka memicu kekacauan karena gravitasi yang berbeda bagi keduanya. Patema yang akan jatuh ke langit jika tidak berpegangan, harus bergantung pada Age. Hubungan mereka berkembang menjadi aliansi unik di tengah perbedaan dunia yang sangat ekstrem.
Konflik muncul ketika rezim totaliter dari permukaan mulai memburu gadis tersebut karena dianggap sebagai ancaman bagi tatanan sosial. Age berusaha melindungi teman barunya tersebut sambil menentang aturan kejam yang selama ini ia patuhi demi mengungkap kebenaran.
Rahasia besar tentang masa lalu dunia mulai terungkap saat mereka saling berbagi perspektif. Teka-teki gravitasi dan prasangka antarmanusia menjadi ujian berat bagi ikatan mereka, memaksa keduanya untuk menentang hukum alam demi kebebasan yang hakiki bagi kaumnya.
Dunia terbelah menjadi dua perspektif yang saling bertolak belakang, menciptakan anomali gravitasi yang mengerikan. Bagi penduduk bawah tanah, langit adalah jurang maut yang menakutkan, sementara mereka yang di atas percaya bahwa jatuh ke bawah berarti tamat.
Kehidupan berubah drastis saat Patema, seorang gadis petualang dari bawah tanah, tidak sengaja terjatuh ke permukaan. Di sana, ia bertemu dengan Age, pemuda kesepian yang memiliki pandangan hidup berbeda tentang dunia dan hukum alam.
Hubungan mereka yang kikuk perlahan berubah menjadi ikatan kuat saat mereka menyadari bahwa dunia mereka tidak seharusnya bermusuhan. Ketakutan akan perbedaan hukum gravitasi menjadi penghalang utama, namun mereka terus berusaha memahami kebenaran yang tertutup.
Porta, sekutu setia yang selalu melindungi, harus menghadapi tekanan besar saat rahasia masa lalu mulai terkuak. Bersama-sama, mereka mencoba menembus batas dogma yang selama ini memisahkan kaum mereka dari kebebasan yang seharusnya bisa mereka nikmati.
Apakah mereka mampu menyatukan langit dan bumi sebelum segalanya runtuh? Sebuah kisah menyentuh tentang keberanian, prasangka, dan pencarian jati diri di tengah dunia yang terbalik, di mana cinta menjadi satu-satunya jembatan yang mampu melawan hukum gravitasi.
Dunia masa depan di mana android sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari manusia. Mereka diperlakukan sebagai alat tanpa emosi, sesuai dengan aturan hukum yang ketat. Namun, sebuah kafe tersembunyi bernama Time of Eve hadir dengan aturan unik.
Di tempat ini, tidak ada perbedaan antara manusia dan robot. Rikuo, seorang siswa sekolah menengah, tidak sengaja menemukan kafe tersebut saat melacak android miliknya yang bertingkah aneh. Ia pun mulai terobsesi dengan rahasia di baliknya.
Di sana, ia bertemu dengan Masaki, sosok yang memiliki trauma masa lalu mendalam terkait android. Mereka berdua sering berinteraksi dengan Akiko, pelanggan tetap yang ramah, sambil mencoba memahami apa sebenarnya arti menjadi makhluk hidup.
Ketegangan muncul saat batas antara mesin dan manusia semakin kabur. Mereka harus menghadapi prasangka sosial yang kuat di luar kafe. Pertanyaan moral tentang kesadaran diri dan empati mulai menguji keyakinan mereka terhadap eksistensi para android.
Akankah mereka mampu meruntuhkan dinding pemisah yang selama ini dibangun masyarakat? Saat interaksi semakin hangat, kebenaran tentang perasaan tersembunyi di balik kulit sintetis perlahan terungkap, menantang persepsi mereka tentang realitas dan kemanusiaan.
Dunia masa depan di mana android sudah menjadi alat rumah tangga biasa. Keberadaan mereka dianggap sekadar mesin tanpa perasaan, namun sebuah kafe unik bernama Eve no Jikan muncul dengan aturan ketat: tidak ada perbedaan antara manusia dan robot di dalamnya.
Rikuo adalah siswa SMA yang merasa risih karena robot pelayannya, Sammy, mulai bertindak di luar program. Rasa penasaran membawanya melanggar norma sosial demi menyelidiki rahasia di balik perilaku robot yang tampak memiliki emosi layaknya manusia.
Di sana, dia bertemu dengan Masaki, seorang pemuda yang memiliki trauma mendalam terkait android. Pertemuan mereka memicu perdebatan batin tentang moralitas. Apakah mesin benar-benar bisa memiliki jiwa, atau hanya sekadar simulasi yang menipu mata?
Interaksi hangat dengan pelanggan lain, termasuk android misterius bernama Akiko, membuat pandangan hidup mereka perlahan goyah. Garis pemisah antara pemilik dan properti mulai kabur, menantang nurani mereka untuk mengakui bahwa setiap entitas berhak dihargai.
Konflik batin terus menguji sejauh mana seseorang bersedia menerima kebenaran yang tidak nyaman. Di tengah ketegangan stigma masyarakat, kafe ini menjadi tempat perlindungan di mana empati dan kemanusiaan diuji hingga ke titik yang tidak pernah terduga sebelumnya.
Dunia telah hancur dan umat manusia kini terjebak di dalam fasilitas bawah tanah yang suram. Kehidupan mereka bergantung pada pengarsipan data masa lalu yang rusak dan misterius. Atmosfer distopia yang dingin ini menjadi saksi bisu kepunahan peradaban.
Di sinilah Ura bekerja sebagai teknisi yang bertugas merestorasi rekaman sisa masa lalu. Dia adalah sosok penyendiri yang memendam rasa penasaran mendalam tentang apa yang sebenarnya terjadi di atas permukaan Bumi yang telah lama ditinggalkan.
Seiring waktu, dia bertemu dengan Riko, rekan kerja yang tampak acuh tak acuh dengan sejarah. Perbedaan pandangan antara rasa ingin tahu Ura dan sikap apatis Riko menciptakan ketegangan batin saat mereka mulai menggali arsip data yang sangat rahasia.
Konflik memuncak ketika mereka menemukan sebuah rekaman yang meruntuhkan segala keyakinan selama ini. Realitas yang selama ini mereka anggap benar ternyata hanyalah lapisan tipis yang menutupi kebenaran menyakitkan tentang sejarah manusia yang telah lama hilang.
Drama emosional ini mempertanyakan apakah manusia harus tetap hidup dalam kegelapan atau berani menghadapi cahaya yang menyilaukan. Mereka dipaksa memilih antara kenyamanan kebohongan atau pahitnya realitas yang tersembunyi di balik sebuah kepompong pucat.