Manusia telah meninggalkan Bumi yang rusak demi menetap di koloni ruang angkasa yang dipantau ketat oleh superkomputer. Di balik keteraturan ini, muncul kaum psikis bernama Mu yang dianggap sebagai ancaman eksistensial bagi tatanan masyarakat yang kaku.
Pemuda naif bernama Jomy Marcus Shin tidak sadar bahwa dirinya adalah bagian dari kaum terbuang tersebut. Kekuatan misterius yang bangkit dalam dirinya memicu kejaran brutal dari militer, yang mengubah hidupnya menjadi pelarian penuh risiko tinggi.
Soldier Blue, pemimpin karismatik kaum Mu, berusaha membimbing Jomy menuju Terra, tanah suci yang menjadi harapan terakhir. Namun, hubungan mereka diuji oleh beban tanggung jawab yang berat saat mereka harus berhadapan dengan takdir kaum mereka.
Di sisi lain, Keith Anyan muncul sebagai kadet elit militer yang berdedikasi tinggi untuk membasmi Mu. Ia terjebak dalam dilema ideologis dan takdir yang mempertemukannya dengan Jomy, menciptakan dinamika rivalitas yang penuh dengan filosofi mendalam.
Konflik epik ini bukan hanya tentang perang antarbintang, melainkan pencarian identitas di tengah penindasan. Pertarungan antara takdir dan kehendak bebas memaksa setiap karakter untuk memilih jalan yang menentukan nasib seluruh umat manusia di masa depan.
Dunia seni yang gemerlap sering kali menyimpan sisi kelam penuh tipu muslihat. Dalam semesta penuh intrik ini, keaslian sebuah mahakarya bisa menjadi taruhan nyawa. Setiap goresan kuas menyimpan rahasia sejarah yang siap dibongkar oleh para detektif.
Seorang pria misterius bernama Fujita menjalankan galeri barang palsu dengan penuh gaya. Ia adalah seorang ahli restorasi jenius yang punya mata tajam untuk membedakan yang asli dari tiruan. Keahliannya membuat banyak kolektor kaya merasa cemas.
Kehadiran Sara Halifa, seorang kurator muda yang idealis, membawa dinamika menarik bagi kehidupan si kurator licik ini. Sara terus berusaha menyeret Fujita ke jalan yang benar, meskipun pria itu lebih memilih bermain di zona abu-abu dunia seni.
Ketegangan sering terjadi saat mereka berhadapan dengan sindikat pemalsu kelas kakap atau kolektor tamak. Perseteruan intelektual antara Fujita dan berbagai musuh licin menjadi bumbu utama yang membuat setiap episode terasa begitu menegangkan dan seru.
Di balik kemewahan galeri, narasi menggali dilema moral tentang nilai sebuah karya di mata manusia. Apakah keindahan terletak pada keaslian fisiknya, atau justru pada cerita yang dipercayai oleh sang pemiliknya? Inilah sisi gelap dunia penuh estetika.
Dunia yang dulunya harmonis kini berubah menjadi mencekam karena aura negatif menyelimuti tanah Tiongkok. Para siluman mulai kehilangan akal sehat dan menyerang manusia tanpa henti. Kekacauan ini memaksa para penguasa surgawi mencari solusi agar kedamaian kembali.
Seorang biksu pemberontak bernama Genjo Sanzo ditugaskan untuk melakukan perjalanan berbahaya ke Barat. Ia tidak sendiri, karena ada tiga pengawal nyentrik yang menemaninya meski mereka sering bertengkar satu sama lain di sepanjang jalan yang penuh rintangan.
Son Goku adalah sosok monyet energik yang polos namun sangat kuat, sementara Sha Gojyo menjadi penengah dengan kepribadian santainya yang doyan merokok. Di sisi lain, Cho Hakkai yang kalem menyimpan sisi gelap yang mengerikan di masa lalunya.
Hubungan mereka penuh dinamika unik, mulai dari aksi saling ejek hingga solidaritas yang solid saat menghadapi musuh. Meski temperamen Sanzo yang kasar sering memicu gesekan, ikatan kepercayaan antar mereka justru semakin kuat di tengah gempuran para siluman haus darah.
Ketegangan memuncak saat konspirasi besar dibalik kebangkitan para siluman mulai terungkap. Mereka harus berpacu dengan waktu, menghadapi iblis dari masa lalu, serta membuktikan bahwa takdir bukanlah sesuatu yang bisa ditentukan oleh kehendak para dewa yang angkuh.