Menjelang festival musim semi, suasana di Akademi Hasunosora berubah menjadi penuh keceriaan. Para anggota klub school idol bersiap menggelar sebuah perhelatan akbar yang megah. Mereka harus berjuang keras menyatukan harmoni demi menciptakan pertunjukan tak terlupakan.
Kaho Hinoshita memimpin semangat rekan-rekannya dengan optimisme tinggi. Namun, di balik senyum ceria itu, ia menyimpan kecemasan mendalam. Ia merasa belum cukup pantas berdiri di panggung besar, sementara Sayaka Murano terus memberikan dukungan moral.
Hubungan antara Megumi Fujishima dan Rurino Osawa pun diuji saat perbedaan gaya kreatif muncul di tengah persiapan. Persaingan sehat antar unit memaksa mereka untuk jujur satu sama lain agar tidak ada keretakan komunikasi yang mengganggu keselarasan tim.
Sementara itu, Tsuzuri Yuigiri berupaya keras menggali inspirasi musik baru bersama Kozue Otomune. Tantangan datang ketika jadwal latihan yang padat mulai menguras energi fisik mereka, memicu ketegangan kecil di sela-sela waktu istirahat yang seharusnya tenang.
Puncak konflik memuncak saat mereka menyadari bahwa waktu terus berjalan cepat menuju hari H. Tema persahabatan dan keberanian diuji di bawah lampu panggung yang terang, memaksa mereka mendefinisikan kembali arti sebenarnya dari menjadi seorang idol yang bersinar.
Musim panas yang cerah dan penuh warna menjadi latar kisah romansa remaja yang manis ini. Di sebuah kota pinggiran yang tenang, kehidupan sehari-hari terasa seperti irama musik yang lembut, menyembunyikan perasaan terpendam dari anak-anak yang sedang beranjak dewasa.
Seorang pemuda pemalu bernama Cherry selalu memakai headphone untuk menutupi rasa canggungnya saat berkomunikasi. Ia lebih suka mengekspresikan perasaannya melalui puisi haiku yang unik, menyimpannya rapat-rapat di dalam lubuk hati yang paling dalam.
Di sisi lain, ada Smile, gadis populer yang selalu menutupi gigi depannya dengan masker karena merasa kurang percaya diri dengan penampilannya. Meski aktif sebagai influencer video, ia tetap berjuang keras mencari cara untuk bisa tampil apa adanya.
Takdir mempertemukan mereka secara tidak sengaja di sebuah pusat perbelanjaan, memicu percikan kisah kasih yang sederhana. Mereka mulai menjalin hubungan melalui kata-kata yang tertulis, perlahan membuka diri sambil membantu seorang kakek mencari kenangan lama.
Di balik gemerlap lampu kota dan kesegaran minuman soda, keduanya berusaha melawan rasa takut dan keraguan diri sendiri. Akankah keberanian muncul untuk mengungkapkan isi hati yang sebenarnya sebelum musim panas berakhir dan waktu terus berlari menjauh?