Suasana kafe Rabbit House mendadak penuh dengan persiapan serius. Kali ini bukan tentang kopi atau kue lezat, melainkan sebuah pertunjukan musik yang sangat dinanti. Ketegangan mulai terasa saat mereka harus berlatih vokal untuk menyambut acara konser mendatang.
Chino merasa gugup karena harus tampil di depan banyak orang. Ia mendapat dukungan penuh dari Cocoa yang selalu ceria, serta Rize yang berusaha tetap tenang. Kekompakan mereka diuji demi memberikan penampilan panggung yang sempurna.
Selain itu, Chiya dan Syaro ikut ambil bagian untuk menyukseskan persiapan tersebut. Dinamika persahabatan yang unik antar mereka membuat suasana latihan menjadi penuh tawa sekaligus haru, saat setiap individu berjuang mengatasi rasa takut masing-masing.
Konflik batin muncul ketika mereka harus memilih lagu yang tepat untuk mencerminkan perasaan tulus satu sama lain. Setiap karakter membawa warna musik yang berbeda, menciptakan perdebatan hangat yang mempererat ikatan emosional di antara para sahabat ini.
Harapan untuk memberikan pertunjukan terbaik menjadi tujuan akhir yang membakar semangat mereka. Dalam balutan musik yang manis, cerita ini mengeksplorasi keberanian untuk melangkah keluar dari zona nyaman demi orang-orang yang mereka cintai di sekolah dan kafe.
Suasana hangat kedai kopi Rabbit House kembali tersaji dengan sentuhan emosional yang mendalam. Film ini membawa penonton ke dalam hiruk-pikuk keseharian yang menenangkan, sekaligus menyimpan dinamika perubahan hubungan antar sahabat yang mulai tumbuh dewasa.
Kisah berpusat pada Cocoa, gadis ceria yang kini berjuang menyeimbangkan waktu antara sekolah dan pekerjaan. Ia sangat menyayangi Chino, namun rasa ketergantungan yang kuat mulai memicu kebingungan akan batasan peran sebagai kakak.
Di sisi lain, Rize harus menghadapi realita perpisahan yang tak terelakkan. Hubungannya dengan teman-teman setianya mulai diuji oleh jarak, membuat suasana di kedai menjadi lebih melankolis dibanding biasanya saat mereka merayakan sebuah festival.
Sementara itu, Syaro dan Chiya berusaha menyemangati teman-temannya di tengah situasi yang penuh kecemasan. Mereka sadar bahwa persahabatan ini tidak akan selamanya sama, dan setiap momen kebersamaan kini terasa jauh lebih berharga bagi mereka.
Ketegangan memuncak saat mereka menyadari bahwa waktu terus berjalan tanpa menunggu siapapun. Akankah ikatan yang mereka bangun mampu bertahan melampaui perbedaan impian, ataukah perubahan ini justru akan menjadi awal dari kedewasaan yang sesungguhnya?