Dunia sirkus yang tampak ceria berubah menjadi mimpi buruk surrealis dalam latar gurun pasir yang sepi. Melalui visual eksperimental yang unik, penonton disuguhkan rutinitas pertunjukan yang kacau, berbahaya, dan dipenuhi dengan kekerasan komedi yang gelap.
Di pusat kekacauan ini, ada Popee, seorang badut ambisius yang sangat terobsesi menjadi seniman terbaik. Sifatnya yang egois, temperamental, dan tidak stabil sering kali membuatnya melakukan tindakan nekat demi memuaskan rasa bangganya sendiri.
Kehadiran Kedon, kelinci raksasa berwajah datar, menjadi pelengkap yang absurd sekaligus musuh bebuyutan. Meski sering bekerja sama dalam atraksi, hubungan mereka sarat dengan kecemburuan, persaingan sengit, dan upaya saling mencelakai satu sama lain.
Konflik kian memuncak saat Papi, sang mentor misterius, muncul untuk memantau aksi mereka dengan gaya eksentriknya. Ketidakhadiran logika di sirkus ini membuat setiap pertunjukan berujung pada cedera fisik yang brutal namun tetap tersaji dengan komedi.
Persaingan antar karakter ini mencerminkan sisi kelam dari ambisi dan kegilaan manusia. Apakah mereka mampu bertahan hidup di bawah terik matahari, ataukah obsesi untuk memamerkan bakat akan menghancurkan kewarasan mereka di panggung sirkus yang terkutuk ini?