Dunia hewan ini bukan tempat bagi mereka yang perkasa, melainkan kumpulan para pecundang yang mencoba bertahan hidup. Dalam kehidupan sehari-hari yang penuh komedi absurd, setiap makhluk berjuang menghadapi kekurangan diri sendiri dengan cara yang konyol.
Tokoh utamanya adalah Uruno, seekor serigala malang yang terlalu penakut untuk menjadi predator. Dia terjebak dalam dilema karena sifatnya yang lemah lembut, membuat interaksinya dengan penghuni hutan lainnya menjadi canggung dan sangat lucu.
Kehadiran Usahara yang sinis memberikan bumbu konflik tersendiri di tengah kelompok aneh ini. Sebagai kelinci yang sangat kasar, dia sering kali memancing kekacauan, membuat dinamika pertemanan mereka selalu penuh dengan pertengkaran dan kesalahpahaman.
Ada pula Chiiko, seekor cheetah yang sangat lamban dalam segala hal. Kepribadiannya yang santai justru menjadi antitesis sempurna bagi lingkungan yang menuntut kecepatan, mempertegas betapa tidak bergunanya mereka di mata hukum alam liar yang sangat kejam.
Perjalanan mereka adalah tentang menerima ketidaksempurnaan di tengah dunia yang keras. Meski sering terjebak dalam masalah konyol, ikatan persahabatan yang unik ini membuktikan bahwa meski tidak berguna, hidup tetap punya sisi manis untuk terus dinikmati.
Berlatar pada tahun 1964 saat Tokyo bersiap menyambut Olimpiade, anime ini membawa kita bernostalgia ke masa emas Jepang yang penuh dinamika. Kehidupan sehari-hari masyarakat kelas menengah dipotret dengan sangat hangat, jujur, sekaligus penuh haru.
Keluarga Yamazaki menjadi pusat perhatian lewat keseharian Yuuta yang aktif, mewakili potret anak muda saat itu. Dia harus berhadapan dengan ekspektasi orang tua serta tekanan sekolah di tengah arus modernisasi Jepang yang sedang berkembang pesat.
Ada pula sosok ayahnya, Heihei, seorang kepala keluarga pekerja keras yang mencoba bertahan di tengah perubahan zaman. Hubungan mereka sering diwarnai perbedaan pendapat, mencerminkan jurang generasi antara ayah kolot dan anak yang penasaran.
Tidak ketinggalan Setsuko sebagai ibu penyabar yang menjadi perekat rumah tangga. Ia berusaha menjaga kedamaian di tengah berbagai masalah ekonomi dan kebiasaan anak-anaknya, memastikan kasih sayang tetap terasa meski hidup sangat sederhana.
Konflik batin dan dinamika keluarga yang kompleks diuji ketika perubahan zaman mulai mengikis tradisi yang mereka pegang teguh. Apakah mereka mampu mempertahankan keutuhan di tengah gempuran dunia modern yang terus memaksa mereka untuk segera beradaptasi?