Setelah kalah di turnamen prefektur, SMA Karasuno bangkit dengan semangat baru demi meraih kemenangan. Fokus kini beralih ke kamp latihan intensif di Tokyo, tempat tim ini harus mengasah kemampuan demi menghadapi lawan-lawan tangguh yang jauh lebih hebat.
Hinata Shoyo yang energik tetap berambisi menjadi ace, sementara Kageyama Tobio berjuang keras menyelaraskan umpan presisi miliknya. Ketegangan internal di antara keduanya memacu pertumbuhan teknik yang sangat krusial bagi masa depan tim.
Kehadiran Tsukishima Kei yang skeptis menambah dinamika emosional, saat ia mulai mempertanyakan makna bermain voli. Di sisi lain, sang kapten Sawamura Daichi harus terus memotivasi anggota tim agar tetap solid di tengah tekanan kompetisi yang berat.
Lawan-lawan kuat seperti Kuroo Tetsurou dari Nekoma menjadi tantangan sekaligus guru tak terduga. Hubungan antar pemain dari sekolah berbeda ini menciptakan rivalitas sehat yang memaksa setiap atlet melampaui batasan fisik serta mental mereka sendiri.
Kini, mereka harus memadukan kekuatan unik setiap individu menjadi satu harmoni serangan yang mematikan. Apakah tekad membaja dan kerja keras tanpa henti cukup untuk membawa Karasuno terbang tinggi menantang tim-tim elit di panggung turnamen nasional?
Di masa depan kelam Mars yang terjajah, sekelompok anak yatim piatu dipaksa bertahan hidup dalam eksploitasi kejam. Mereka membentuk korps keamanan sendiri untuk melawan penindasan militer, terjebak dalam pusaran konflik politik antar planet yang penuh tipu muslihat.
Pemimpin tangguh Mikazuki Augus menjadi ujung tombak pertempuran dengan mengandalkan insting tajam serta robot legendaris Gundam Barbatos. Ia sangat setia kepada Orga Itsuka, sosok karismatik yang rela melakukan apa saja demi masa depan mereka semua.
Hubungan mereka diuji saat mendampingi Kudelia Aina Bernstein, bangsawan idealis yang berjuang demi kemerdekaan Mars. Misi pengawalan berbahaya ini memaksa mereka berhadapan dengan pasukan elit Gjerhorn yang memiliki kekuatan jauh lebih besar dan sangat mematikan.
Persahabatan mereka mulai retak akibat beban tanggung jawab dan kerasnya dunia yang tidak mengenal belas kasihan. Setiap langkah yang diambil selalu berisiko tinggi, membuat batasan antara moralitas dan kekejaman menjadi kabur di tengah medan perang yang berdarah.
Konflik memuncak saat mereka menyadari bahwa dunia hanya memandang mereka sebagai pion yang bisa dikorbankan kapan saja. Dengan tekad baja, mereka harus menentukan arah hidup sendiri dalam petualangan epik yang mempertaruhkan nyawa demi sebuah kebebasan sejati.