Semenjak ayahnya meninggal, Tanjirou Kamado harus nanggung beban buat ngidupin keluarganya sendirian. Walaupun hidup susah di gunung terpencil, keluarga Kamado tetap bisa ngerasain hidup yang damai dan bahagia. Suatu hari, Tanjirou mutusin buat turun ke desa buat jualan arang biar dapet duit tambahan. Pas lagi perjalanan balik, hari udah malem, akhirnya Tanjirou terpaksa nginep di rumah orang asing yang ngingetin dia soal iblis pemakan manusia yang suka berkeliaran di hutan pas malam hari.
Pas nyampe rumah besoknya, dia malah ngeliat pemandangan yang ngeri banget—seluruh keluarganya udah dibantai. Yang lebih parah lagi, satu-satunya yang selamat cuma adiknya, Nezuko, tapi dia udah berubah jadi iblis yang haus darah. Karena marah dan dendam banget, Tanjirou bersumpah buat bales dendam atas kematian keluarganya dan bakal terus nemenin satu-satunya adik yang dia punya.
Dibantu sama kelompok misterius yang nyebut diri mereka Korps Pembasmi Iblis, Tanjirou bakal ngelakuin apa aja buat ngebantai para iblis dan berusaha ngembaliin sisi manusia adiknya yang tersisa.
Dunia shogi yang keras kembali menuntut ketangguhan mental bagi Rei Kiriyama. Musim kedua ini menggali lebih dalam sisi emosional sang jenius yang kesepian, saat ia berjuang menjaga keseimbangan hidup antara ambisi profesional dan kehangatan hati.
Kehadiran tiga bersaudara Kawamoto, yakni Akari, Hinata, dan Momo, menjadi pelabuhan bagi Rei. Ikatan kekeluargaan mereka memberikan warna baru di tengah dinginnya persaingan papan catur yang penuh tekanan dan ambisi besar.
Konflik memuncak saat Hinata menghadapi ujian berat di sekolah yang menguji moralitas dan keberaniannya. Rei berusaha memberikan dukungan terbaik, namun ia pun menyadari keterbatasan dirinya dalam melindungi orang yang paling ia sayangi di dunia.
Sosok Kai Shimada dan rival lainnya terus memacu Rei untuk tumbuh melampaui batas kemampuannya. Pertarungan di atas papan shogi bukan sekadar strategi, melainkan cerminan dari pergulatan batin serta pencarian makna hidup yang selama ini terasa hampa.
Musim ini mengeksplorasi tema empati, ketangguhan, dan kedewasaan dengan sangat menyentuh. Rei perlahan belajar bahwa meski ia hidup dalam kesendirian, ada benang kasih sayang yang menghubungkannya dengan orang lain di tengah badai kehidupan yang keras.
Satu tahun setelah arwah sahabat mereka, Honma Meiko (Menma), mendadak muncul dan akhirnya berhasil pergi dengan damai, Jinta Yadomi dan sisa anggota grup Super Peace Busters berkumpul lagi. Demi menjaga kenangan manis tentang Menma agar gak pudar, mereka mutusin buat bikin ritual kecil: nulis surat yang ditujukan khusus buat mengenang sahabat masa kecil mereka itu. Sambil mencoba menikmati liburan musim panas bareng, sirkel pertemanan yang sempat retak ini mulai bernostalgia nginget-nginget lagi masa lalu mereka.
Film ini bakal ngebawa kita kilas balik ngeliat momen-momen emosional sebelum dan sesudah kematian Menma. Uniknya, alur cerita utama dari serialnya bakal diceritain ulang, tapi kali ini lewat sudut pandang (POV) masing-masing anggota Super Peace Busters—mulai dari Jinta, Anaru, Yukiatsu, Tsuruko, sampai Poppo. Kita bakal diajak ngeliat gimana perasaan jujur, penyesalan, dan rasa kehilangan yang selama ini dipendam sendirian oleh tiap karakter pasca ditinggal Menma.
Bisa dibilang, film ini adalah surat cinta sekaligus momen healing bagi para anggotanya buat bener-bener berdamai sama masa lalu. Lewat surat-surat yang mereka tulis, kelihatan jelas gimana kehadiran Menma—meski singkat—udah berhasil menyatukan dan mengubah hidup mereka jadi lebih kuat. Siap-siap aja buat tisu tambahan karena momen nostalgianya tetep bikin nyesek dan berkaca-kaca!